LPSK Mencatat Bulan Januari 2018 Puluhan Korban Kekerasan Seksual

0
22

Paperjakarta.com – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mencatat setidaknya sudah 98 orang menjadi korban kekerasan seksual, dimana 88 diantaranya masih berusia anak. Jumlah tersebut masih mungkin bertambah jika melihat kemungkinan adanya tindakan kekerasan seksuaI yang tidak dilaporkan. “Dari jumlah tersebut menunjukan jumlah yang cukup tinggi. Bahkan jika dirata-rata, bisa 3 orang lebih menjadi korban kekerasan seksuai setiap harinya”, ujar Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai.

Dari jumlah tersebut LPSK sudah memproses penanganan kepada 73 orang anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Para korban tersebut saat ini sedang dalam tahap proses pengajuan permohonan perlindungan, yang mana merupakan syarat diberikannya perlindungan. Dari jumlah 73 korban, lebih dari setengahnya, yakni 43 orang, merupakan anak korban pencabulan Babe di Tangerang. “Khusus untuk kasus Babe Tangerang, LPSK akan bersinergi dengan instansi lain agar pemberian Iayanan bisa optimal sesuai tugas fungsi masing-masing ungkap Semendawai.

Dari hasil temuan tim LPSK yang turun ke Iapangan menemui para korban kekerasan seksual, diketahui bahwa rata-rata para korban rasa takut. trauma, hingga tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar baik keluarga maupun pihak sekolah Bahkan pada beberapa kasus ada upaya dari keluarga maupun sekolah untuk menutup – nutupi kasus yang menimpa anak atau siswa mereka. “Hal ini tentunya selain menyebabkan tindak pidana sutit terungkap, juga akan semakin memojokkan posisi korban”, sesal Semandawai
Selain itu, adanya tuntutan pembuktian seringkali membuat suatu tindak pidana kekerasan seksual sulit di ungkap hal ini dikarenakan minimnya saksi yang mengetahui. Apalagi jika kekerasan seksual yang tidak berbentuk penetrasi dimana bukti-bukti akan semakin sulit. Meski begitu LPSK yakin dengan itikad baik dan inovasi dari penyidik bukan berarti tindak pidana kekerasan seksual yang buktinya minim akan sulit terungkap. “Misalnya dengan melakukan visum psikiatri yang tidak hanya berpatokan pada bukti fisik yang mungkin saja tidak ada, namun sebenamya tindak pidana seksual sudah terjadi”, harap Semendawai.

LPSK berharap adanya itikad baik penyidik dan dukungan dari masyarakat, sehingga selain bisa membantu mengungkap tidak pidana, juga bisa memberikan dukungan kepada korban agar bisa melalui trauma pasca menjadi korban. “Hal seperti ini penting agar korban tidak menjadi korban untuk kesekian kalinya baik dari pandangan masyarakat maupun manjadi korban dari proses peradilan yang dijalaninya”, pungkas Semendawai. (Ria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here