Mengenang 18 Tahun Sampurno

0
30


Paperjakarta.com –  Pergelaran Tari Nusantara dan Mataya Langen Swara Bhisma Dwijatama dalam rangka mengenang 18 tahun almahrum Sampurno di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta Timur, Minggu (28/1/2018)

Direktur Budaya TMII, Sulistyo Tirtokusumo dalam kesempatannya mengatakan, pertunjukan kali ini digelar untuk memperingati 18 tahun wafatnya Pak Sampurno. Sosoknya dikenal sebagai General Manager TMII yang paling lama dan juga Kepala Rumah Kepresidenan yang terlama yang setia mendampingi Presiden Soeharto dan Ibu Tien.

Selama Sampurno mengemban jabatan tersebut, hidupnya di dedikasikan untuk mengembangkan dan membina seni tari tradisional nusantara. Sajian tarian menjadi konsumsi tamu-tamu negara di acara Keprersidenan yang digelar di Istana Negara dan TMII.

Oleh sebab itu, Sulistyo memandang perlu untuk mengembalikan spirit Sampurno agar TMII lebih dikenal atau dikembalikan lagi menjadi wahana pelestarian budaya bangsa bermutu tinggi.

“Kenapa kita pilih karya Bhisma Dwijatama ini. Karena ini juga karya terakhir beliau sekitar tahun 1997 dipestaskan terakhir di Jepang, terus beliau wafat tahun 1999,” kata Sulistyo
Selanjutnya , Sarasmani Sampurno, istri almarhum Sampurno mengucap syukur atas kepercayaan serta apresiasi yang dipersembahkan dalam sebuah gelaran seni budaya tradisional Bhisma Dwijatama. “Pergelaran ini untuk memperingati 18 tahun wafatnya Pak Sampurno. Di samping menjalankan tugas negara, bapak itu tidak pernah lepas dari berkesenian. Seperti dalam tampilan Bhisma Dwijatama, itu karya beliau,” kata Sarasmani.

Tari ‘Bhisma Dwijatama’ memiliki makna filosofi sebuah kesalahan besar telah diperbuat oleh seorang Maha Resi dari kerajaan Astina saat ia masih muda. Tanpa sengaja ia telah membawa serta seorang putri agung negara Kasipura, Dewi Amba. Yakni, seorang putri yang tidak termasuk dalam sayembara yang sedang berlaku.

Putri Amba tak mungkin kembali. Maka, ia menuntut untuk diperistri sang Resi. Permintaan tak mungkin terjadi karena sang Resi telah bersumpah Wadat atau tidak akan beristri dan mempunyai anak. Ini demi kedamaian Kurawa maupun Pandawa.

Panah yang dipegangnya untuk memaksa Dewi Amba kembali ke negaranya tanpa sengaja lepas dan mengenai tepat Dewi Amba, yang sesaat kemudian menemui ajalnya. Sebelum sukmanya menghilang, Dewi Amba sempat berseru: “Suatu saat nanti pada waktu perang Bharata Yudha, saya akan menjemputmu.”

Sebenarnya antara kedua mahluk dewata ini telah tumbuh cinta yang sangat dalam. Sang Resi menjadi sangat sedih dan menyesal. Ia menjawab lirih ” Saya menunggu.”

Peristiwa ini terjadi berpuluh-puluh tahun silam. Kini perang Bharata Yuhda sedang berlangsung sangat dahsyat. Banyak Senapati dan perwira serta prajurit jatuh berguguran. Pada saat yang kenting Kurawa mengangkat Sang Maha Resi Bhisma sebagai senapati. Sudah pastilah Sang Maha Resi tidak terkalahkan.

Namun Kresna tidak menjadi panik. Dengan kewaspadaan yang sangat diperhitungkan dia mengangkat Srikandi menjadi Senapati dari pihak Pandawa.
(Ria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here