Konferensi Internasiinal ICSGS UI Publikasikan 51 Paper

0
56

Paperjakarta.com – Panitia The Firts (1-st) International Conference of Strategic and Global Studies (ICSGS) telah menerima 100 paper/ makalah dari para calon peserta yang mengikuti call of papers.

Konferensi ini mengangkat tema “Strengthening Sustainable Development Goals Toward A World Peace Order” atau “Memperkuat Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Suatu tatanan Dunia yang Damai”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa (Hima) Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI). Tepatnya pada Kamis, 30 November 2017 mendatang, bertempat di Pusat Studi Jepang, Kampus UI, Depok.

Dari 100 paper/ makalah itu, 77 paper diantaranya telah lolos seleksi, yakni terdiri dari 51 paper yang akan dipresentasikan oleh para penulisnya, dan 26 lainnya dalam bentuk poster.

Artinya, 23 paper telah ditolak atau tidak lolos seleksi oleh 13 orang reviewer atau dewan redaksi dari Journal of Strategic and Global Studies yang segera diterbitkan oleh SKSG UI pasca konferensi ini. SKSG UI juga akan berupaya mempublikasikan paper-paper itu di jurnal terindeks Scopus/ Thomson Reuter.

Adapun 51 paper yang telah lolos seleksi dan akan dipresentasikan itu terbagi ke dalam sejumlah tema penulisan, diantaranya ialah Islamic Finance (Ekonomi Syariah), National Security (Keamanan Nasional), National Resilience (Ketahanan Nasional), dan Gender Issues (Isu-Isu Gender), serta Sustainable Regional (Pembangunan Kawasan Secara Berkelanjutan).

Tema-tema lainnya ialah Global and Regional Issues (Isu-isu dunia dan kawasan, Peace and Conflict Resolution ( Perdamaian dan Resolusi konflik), Youth and Leadership (Pemuda dan kepemimpinan, serta Social, Culture, Religion, and Humanities (sosial, budaya, agama, dan kemanusiaan).

Sedangkan 13 orang reviewer itu merupakan para pakar di bidang kajian stratejik dan global, yakni Prof. Purnawan Junadi, Prof. Ibnu Hamad, Shofwan Choiruzzad al-Banna, Ph.D., Yon Machmudi, Ph.D., Dr. Nurul Huda, Dr. Soleh Nurzaman, Dr (cand). Terraya Paramehta, Mia Siscawati, Ph.D., Dr (cand). Zezen Zainal Muttaqin, Dr. Rapti Siriwardane-de Zoysa, dan Dr. Phil (cand). Zacky Khairul Umam, M.A., M.Phil., dan Dr. Annisa Santoso, serta Bayu Kristianto, Ph.D.

Dari 13 pakar di bidang kajian stratejik dan global itu, beberapa di antaranya ialah kandidat Ph.D (Doktoral) dari University of California, Riverside, Amerika Serikat (AS), yakni Zezen Zainal Muttaqin, dan kandidat Doctor of Philosophy (Dr.Phil) dari Freie University di Berlin, Jerman, yakni Zacky Khairul Umam, serta alumi dari University of Bremen, Jerman, yakni Dr. Rapti Siriwardane-de Zoysa.

Koordinator Humas The First ICSGS UI, Muhammad Ibrahim Hamdani, menyatakan bahwa konferensi internasional ini merupakan upaya SKSG UI untuk mendukung kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif serta ikut berperan dalam menjaga dan memelihara perdamaian dunia.

Sesuai dengan tema yang diangkat dalam konferensi, yakni “Strengthening Sustainable Development Goals toward A World Peace Order,” tatanan dunia yang damai dan harmonis merupakan prasyarat utama terwujudnya pembangunan berkelanjutan di segala bidang, terutama di bidang sumber daya alam (sda) dan sumber daya manusia (sdm).

“Situasi politik internasional yang kini dipenuhi konflik antar agama, etnik dan negara serta menguatnya pemahaman ekstrimisme dan terorisme global merupakan ancaman serius bagi pembangunan dunia secara berkelanjutan,” tutur M. Ibrahim Hamdani yang juga Asistem Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI UI) ini.

Jika kondisi krisis dunia ini dibiarkan berlarut-larut, lanjutnya, maka kemanusiaan kita akan terancam dengan semakin sulitnya akses terhadap pangan sandang, dan papan akibat perang dan konflik antar sesama manusia.

“Konflik Myanmar antara pemerintah dengan etnik Rohingya di Rakhine State merupakan contoh nyata betapa faktor kemanusiaan sangat diabaikan oleh pihak-pihak yang berkonflik,” paparnya.

Akibatnya, fasilitas umum di sana menjadi hancur-lebur, bahkan terjadi gelombang pengungsian besar-besaran ke berbagai negara di sekitar Myanmar seperti Bangladesh, Malaysia, Thailand, dan Indonesia.

“Dalam kondisi seperti ini, tentu pembangunan berkelanjutan untuk pangan, sandang,dan papan akan terhambat dan tidak dapat dikakukan dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi serupa dapat kita lihat dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung lebih dari 60 tahun dan tidak kunjung selesai hingga kini. “Betapa pembangunan infrastruktur di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina, sangat minim dan di bawah standar internasional untuk fasilitas sandang, pangan, dan papan yang layak,” ucapnya.

Hamdani juga mengajak semua pihak untuk belajar dari konflik Suriah antara pemerintah dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di satu sisi, dan kelompok oposisi Free Syrian Army (FSA) atau Tentara Pembebasan Suriah di sisi lain.
Kelompok-kelompok ini juga terlibat konflik dengan Pasukan Milisi Kurdi atau Yekîneyên Parastina Gel (YPG), dan Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Front (SDF).
“Berbagai konflik ini telah memporak-porandakan berbagai fasilitas umum yang ada di Suriah, baik sandang, pangan, maupun papan,” imbuhnya.

Kualitas dan harapan hidup rakyat Suriah pun, jelasnya, menurun drastis seiring dengan berlarut-larutnya konflik Suriah.
Apalagi negara-negara besar seperti China, Iran, Amerika Serikat, Rusia, dan Turki ikut terseret arus pusaran konflik di Suriah sehingga semakin menjauhkan negara itu dari harapan terwujudnya pembangunan berkelanjutan di segala bidang secara berkelanjutan.

Di sisi lain, konflik antara negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS), dengan Korea Utara semakin memanas akhir-akhir ini. Perang kata-kata bernada saling ejek antara Presiden AS, Donald Trump, dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, membuat negara-negara di kawasan Asia Timur, terutama Kekaisaran Jepang, Republik Rakyat China (RT)RC), dan Korea Selatan, meningkatkan anggaran militer untuk memperkuat armada lautnya.

Bahkan, latihan militer pun semakin sering dilakukan dengan alasan untuk mempertahankan kedaulatan negara dari apa yang mereka sebut ancaman senjata rudal dan nuklir Korea Utara. Daya ledak dan jelajah Rudal Taepodong II yang semakin jauh dan kuat turut memperbesar ancaman itu.

Sebaliknya, RRC pun tetap berkomitmen untuk membantu sekutu tradisionalnya, Korea Utata, seraya tetap mengimbau semua pihak, khususnya Korea Utara, untuk mempertahankan stabilitas keamanan regional Asia Timur dan masing-masing pihak untuk menahan diri.

Bertambahnya anggaran militer di negara-negara Asia Timur ini tentu berpotensi menimbulkan konflik terbuka, bahkan perang antar negara. Jika perang terbuka itu sampai terjadi, teantu saja pembangunan berkelanjutan dalam berbagai bidang akan terhambat dan menurunkan kualitas sumber daya manusia (sdm) di Asia Timur akibat banyaknya pengungsi dan korban perang.

(Ria)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here