Peluncuran Buku Ketika Agama Bawa Damai Bukan Perang

0
6

 

Ketika Agama Bawa Damai, bukan Perang: Belajar dari “Imam dan Pastor” Nigeria

Paperjakarta.com – Pusat Paramadina mengadakan peluncurkan buku serta diskusi bertempat di Auditorium Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 1 – Jakarta Pusat. Dengan Tema ” Belajar dari Imam dan Pastor”. Acara ini di buka oleh Pidato Bpk Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin ,Rabu (01/11).

Hadir Pula Pemateri Seperti Sidney Jones (Direktur IPAC Politik and Conflict), Ahmad Syafi’i Muhid (Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama) DKI jakarta, serta Ihsan Ali Fauzi ( Direktur Pusat Paramadina).

Menteri Agama RI Lukman Hakim menuturkan ” Agama tidak ada yg mengajarkan konflik, atas alasan apapun, tidak ada agama apapun yg meminta umatnya untuk menciptakan konflik. Kehidupan kita ini saling mensejahterahkan begitulah esensi seluruh agama didunia” katanya.

Ada lima yang bisa mencegah konflik yaitu  Kesadaran , Organisasi , Membangun jaringan dan evaluasi serta Kampanye hal hal yang baik” lanjut Pak Menteri Agama.

Menurut Ihsan, ” Agama sering jadi sumber aksi-aksi kekerasan. tapi agama juga bisa jadi sumber upaya-upaya bina damai. Kita sering terpaku pada yang pertama, kurang sekali melaporkan dan mempelajari yang kedua. Kita sudah tidak adil sejak dalam pikiran: kita mau agama menyebarkan kasih, tapi yang kita perhatikan melulu agama yang membawa perang”. jelasnya.

Dua pengaruh agama di atas dialami Imam Muhammad Ashafa dan Pastor James Wuye dari Nigeria. Mereka contoh hidup pemimpin agama yang hijrah dari mendukung aksi-aksi kekerasan menjadi pengecamnya. Kisah mereka didokumentasikan dalam film The Imam and the Pastor (2006), yang banyak dipuji, mempopulerkan mereka sebagai “lmam dan Pastor”.

Pada awal l990-an, keduanya memimpin kelompok milisi Muslim dan Kristen yang terlibat dalam konflik kekerasan di Kaduna, kota terpenting di Nigeria. Meski alasannya kompleks, banyak konflik di negara ini memang membawa bendera dua agama itu, yang terbesar, dengan penganut masing-masing sekitar 50 dan 40 persen penduduk.

lni sebagiannya warisan kolonialisme lnggris (mulai l860): dalam rangka divide et impera, mereka membiarkan Islamisasi berjalan di utara. yang meminggirkan minoritas pribumi Afrika dan Kristen. tapi mendukung Kristenisasi besar-besaran di selatan. Akibatnya, ketika merdeka (! 960), sementara jumlah pengikut kedua agama hampir seimbang, polarisasi Muslim-Kristen tinggi (dengan segala stereotipe dan kecurigaan yang menyertainya), seperti rumput kering yang mudah terbakar.

Pengalaman ini melibatkan proses yang dapat dipelajari untuk mendorong berlangsungnya proses yang sama pada orang atau kelompok lain. Bukankah kita juga sering mendengar khotbah berisi kebencian .Kedua, agar mampu meraih harapan mereka, James dan Ashafa tidak punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup. misalnya tentang strategi manajemen konflik atau keterampilan mediasi. Untuk itu, keduanya tidak ragu, malu atau malas untuk belajar dari siapa saja-dalam usia mereka yang tidak muda lagi. dan dalam posisi mereka sebagai pemimpin agama. Ashafa bahkan bersedia ikut kursus tiga bulan di Inggris, mantan penjajah yang pernah dia tuduh lm rr! Belakangan terbukti bahwa semua pengetahuan dan keterampilan ini menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka.

Aspek ini juga bisa dipelajari dan dicontoh. Wawasan pluralis saja tidak cukup bagi agamawan zaman sekarang. Para pekerja dan aktivis pluralisme di Indonesia perlu ingat ini. Juga mereka liang mengurusi lembaga seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).Ke tiga meskipun agamawan dan bekerja menyebarkan pesan-pesan agama dan perdamaian, Ashafa dan James tidak mencurigai. bahkan bekerjasama. dengan kelompok-kelompok sekuler. inisiatif mereka bahkan didukung lembaga-lembaga seperti British Council. Belakangan terbukti bahwa kerjasama ini. dalam aspek penguatan sumberdaya manusia, dukungan dana bagi kegiatan tertentu. atau pengembangan jaringan, memainkan peran kunci dalam keberhasilan mereka.

Aspek ini pun penting dipelajari dan dicontoh oleh agamawan. Tapi kelompok-kelompok sekuler pun perlu merenungkannya. mengingat peran penting agama di Indonesia. Sementara memang tidak adajaminan bahwa binadamai berbasis agama bisa menyelesaikan semua atau bahkan satu masalah.

Upaya diplomatik tidak akan bisa jalan. Agama akan terus ada di sini: mengabaikannya tidak akan membuatnya hilang”.papar Ihsan Ali Fauzi.

(Ria )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here